Pada hari Selasa, 16 Januari, saya mengunjungi Desa Pentingsari di Yogyakarta untuk kegiatan tinggal selama 4 hari, 5 malam. Tujuan dari program ini adalah memberikan pengalaman langsung kepada siswa tentang budaya pedesaan. Untuk persiapan tinggal, saya membawa beberapa set pakaian, celana, barang pribadi, dan sejumlah uang nominal. Awalnya, saya tidak berpikir bahwa jumlah uang kecil akan menjadi penting, tetapi kemudian saya menyadari signifikansinya di desa di mana uang tersebut lebih umum digunakan karena harga barang yang relatif rendah, dan pedagang sering kesulitan memberikan kembalian dengan pecahan uang yang lebih besar.
Pada hari pertama, kami berkumpul di SHB, di mana para guru melakukan absensi dan kegiatan briefing. Setelah briefing, kami naik bus sesuai dengan kelompok kami dan berangkat ke Yogyakarta. Perjalanan bus itu menyenangkan, penuh dengan nyanyian dan percakapan yang mendalam dengan teman-teman.
Hari kedua, Rabu, 17 Januari, menandai kedatangan kami di desa Pentingsari. Kami mengadakan acara penyambutan antara siswa SHB dan warga Pentingsari. Setelah itu, saya menuju ke rumah tinggal saya untuk istirahat dan sarapan lezat nasi goreng dan telur. Di sore hari, kami berkumpul di Pendopo untuk belajar gamelan Jawa, tari, batik, pembuatan wayang, dan kerajinan daun kelapa. Hari tersebut diakhiri dengan upacara “Kenduri” tradisional, acara makan malam yang melambangkan sambutan tamu di Desa Pentingsari. Setelah Kenduri, kami kembali ke rumah tinggal kami untuk istirahat.
Pada hari ketiga, Kamis, 18 Januari, saya bangun, mandi, dan sarapan nasi kuning. Kami kemudian pergi ke UGM untuk tur kampus, seminar mengenai jurusan, dan prosedur penerimaan. Setelah kegiatan-kegiatan tersebut, kami kembali ke desa. Di perjalanan pulang, saya terlibat dalam berbagai aktivitas dengan teman-teman, termasuk belajar cara mengikat dasi. Setelah kembali ke desa, kami berlatih untuk upacara penutup dan kemudian istirahat.
Hari keempat, Jumat, 19 Januari, dimulai dengan rutinitas pagi dan sarapan. Kami berkumpul di “pendopo” untuk apel dan kemudian menjelajahi industri rumah, termasuk kopi, jamur, dan tempe. Setelah istirahat kopi dan packing, kami mengucapkan selamat tinggal kepada tuan rumah kami, makan siang, dan mengunjungi tempat souvenir dan Malioboro. Saya membeli beberapa makanan sebelum kembali ke bus untuk menuju kembali ke Tangerang. Selama perjalanan, kami makan dan berbincang, menyanyikan lagu-lagu yang mendukung.
Pada hari kelima, Sabtu, 20 Januari, kami tiba di SHB 3 dan kembali ke rumah masing-masing.
Kegiatan live-in ini mengajarkan saya untuk hidup sederhana tanpa kemewahan. Meskipun tanpa ponsel, saya merasa puas, produktif, dan menikmati berolahraga dan menghabiskan waktu dengan teman-teman. Pengalaman ini juga memberikan istirahat yang menyegarkan dari kehidupan perkotaan dan polusi udaranya.
Caren Tjan – 11 IPS
WhatsApp us