Festival Kue Bulan adalah Festival Pertengahan Musim Gugur yang dirayakan di China dan juga di Indonesia oleh masyarakat keturunan Tionghoa. Di sekolah kami, kami merayakan Festival Kue Bulan dengan menulis surat kepada orang tua kami dalam bahasa Mandarin, kemudian sekolah memberi kami kue bulan untuk diberikan kepada orang tua kami. Kami memberikan surat dan kue bulan kepada orang tua dan mengucapkan ucapan selamat. Orang tua kami sangat senang dan terharu karena kami menunjukkan betapa kami peduli kepada mereka.
Biasanya, selama Festival Kue Bulan di sekolah kami, ada acara seperti menghias papan besar dengan tema Festival Kue Bulan, lomba menyanyi Mandarin, dan tarian bergaya Tionghoa. Namun, tahun ini kami tidak merayakannya dengan cara itu. Kami hanya menulis surat dan memberikan kue bulan karena Festival Kue Bulan jatuh pada minggu ujian tengah semester. Meskipun begitu, Festival Kue Bulan tetap menjadi hari yang berkesan bagi kami karena kami saling menunjukkan kepedulian satu sama lain. Kami juga menghormati leluhur yang telah meninggal untuk menghargai Festival Kue Bulan. Kami berdoa untuk leluhur kami dua kali: pagi hari pukul 05:00 dan sore hari pukul 17:00.
Ada banyak hal yang kami lakukan selama Festival Kue Bulan, seperti makan bersama dengan keluarga besar, makan kue bulan, dan menikmati makanan khas Tionghoa. Kami juga mengobrol satu sama lain, tertawa bersama, dan bermain permainan kecil seperti teka-teki atau trivia tentang sejarah Festival Kue Bulan. Karena saya punya hobi menggambar, saya menggambar gambar yang berhubungan dengan Festival Kue Bulan, seperti kue bulan dengan kelinci karena kue bulan sering dikaitkan dengan kelinci. Hal ini disebabkan oleh legenda Kelinci Giok, yang tinggal di bulan bersama dewi bulan Chang’e. Dalam budaya Tionghoa, kelinci sangat erat kaitannya dengan bulan, sehingga sering muncul dalam banyak cerita yang berhubungan dengan Festival Kue Bulan.
Itulah pengalaman saya dengan Festival Kue Bulan. Terima kasih.
CAREN TJAN/12 IPS
WhatsApp us