May Day – nama populer untuk hari Buruh – dirayakan pada tanggal 1 Mei setiap tahun dan menjadi hari libur umum di sebagian besar negara. Tanggal tersebut dipilih untuk memperingati pencapaian gerakan buruh pada abad ke-19. Gerakan itu digelar untuk memperjuangkan waktu kerja 8 jam per hari.
Sungguh merupakan sebuah cerita yang amat panjang.Sebelum aksi itu terjadi, revolusi industri menyebabkan ribuan pria, wanita, dan anak-anak kehilangan nyawa karena kondisi kerja yang buruk dan jam kerja yang panjang. Mereka yang memprotes ditangkap dan diadili, sehingga menimbulkan gelombang pemberontakan. Akhirnya dari usaha dan perjuangan para buruh, banyak pemerintah dan pemilik usaha yang memahami hak dan kewajiban buruh.
Di Indonesia, perayaan Hari Buruh dirayakan pada era Soekarno, Presiden pertama Indonesia. Kemudian dilarang dan dianggap ilegal selama bertahun-tahun di tahun-tahun pemerintahan Presiden kedua, Soeharto, mulai tahun 1967. Hari Buruh kembali dirayakan pada tahun 2014, pada masa kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono.
Selama bertahun-tahun, massa pekerja yang sangat besar berbaris ke Istana Kepresidenan dan mengadakan aksi dalam rangka Hari Buruh untuk menyampaikan aspirasi mereka untuk kesejahteraan para pekerja. Isu utama yang dibawakan dalam orasi biasanya adalah upah minimum dan kondisi kerja. Hal ini biasanya menjadi perhatian investor, yang merelokasi pabrik mereka ke negara-negara Asia Selatan untuk mencari biaya yang lebih rendah, terutama upah yang lebih rendah.
Di sisi lain, pekerja mungkin merasa diabaikan dan diremehkan, terutama ketika mereka telah mencurahkan waktu dan upaya mereka dalam pekerjaan yang menuntut fisik dan mental. Mereka yang lebih terdidik akan menunjukkan kinerja dan kontribusi mereka pada perusahaan tempat mereka bekerja dan negara. Mereka memahami hak-hak mereka dan mencoba untuk menggapai kehidupan yang lebih baik untuk diri mereka sendiri dan keluarga mereka.
Miss Maria Damanik (Bagian 1)
WhatsApp us