[:en]
My name is Alexander Giovanni and I’m from grade 10 Science 1. Last December, I joined the wintercamp program that the school offered. At first, I didn’t want to go because I was afraid that I had only one friend that also joined. I had a little debate with my parents, but in the end I decided to go. There are so many things that we did there and I will share my experience.
On my first day, I was truly lonely because out of 28 people from Indonesia, I only knew 1. I was afraid to have no one to talk to. The journey from Jakarta to Hainan really did take the whole day. With 6 hours flight to GuangZhou and 1.5 hours from GuangZhou to Hainan, with additional times for immigration and stuff, I felt really tired upon my arrival there. Luckily we went straight to the hotel after we arrived. The next morning I was pretty stunned, there were other people who joined this camp, and they were not from Indonesia. Later that day, I discovered that the wintercamp member consisted from 7 different countries (Indonesia, Malaysia, Brunei, Thailand, Myanmar, Singapore and Australia).
During the times there, we went to several cities. During our first 6 days there, we stayed in Wenchang. That was the time when we went to the school. In the school, we studied singing in Hainan dialect, dancing, doing martial arts, drawing Chinese painting, making tea pots from clay and do calligraphy. At the last night in WenChang, every group(divided by bus) and every country had to perform in an evening Gala. Our group had to do the folk dance, and from Indonesia, we present a dance with the song “Gemufamire”. In WenChang, we also went to The Space Museum and Song Qing Ling’s Former Residence. After those 6 days, we went to QiongHai. On the way there, we stopped at the Red Army Memorial. After that, we went to WanNing, Sanya and the last city HaiKou. In SanYa, we visited the Buddhist temple and the Guan Yin Statue of the South Sea of Sanya. The place there was so big and it made us tired after walkking around. But, the landscape there and the place is so exotic. The first night when we arrived at Haikou, we had another evening gala. It was bigger and more prepared than the one in WenChang. This time, we represent Indonesia by singing “Indonesia Pusaka” and “Heal The World”.
Language was the main problem when we were there. None of the teachers and trainers could speak English there. They only speak Chinese and Hainanese. Some of the guides could speak a little English. And shockingly, all the other members from other countries speak fluent Chinese. So, when we were required to do something by the teachers, our Malaysian friends translate it to English or sometimes Melayu. This slowly became the start of us Indonesian, to be closer to them.
By going there, we improved our Mandarin little by little. We slowly add our vocabulary knowledge by using them regularly. We also gained information about the history of China, the red army, the astronauts and more. Other than those, we also made friends with people from different countries. By the time for the last night in Haikou, we have got close to our friends especially from Malaysia. We have exchanged our phone numbers. The last night there, most people sleep really late. We hanged out, played cards, and do other stuff together. When it was time to say goodbye, most of us cried. We weren’t ashamed to cry in front of people.
This wintercamp had been a good journey for me, as well as my friends. I started with 1 friends, came home with more than 30 new friends. We are so happy that we could attend this wintercamp. I, who at first didn’t want to go, had came home with no regret at all. Me, as well as all my friends are looking forward to the next camp program.
[:zh]
我名叫Alexander Giovanni,我是第十年级理科班的学生。上个月的12月份,我参加了学校举办的冬令营。刚开始的时候,我不想参加。因为,我只有一位朋友参加本冬令营。为了此事,我与我的父母有一点争论,但最终我决定了参加。在那边的时候,很多有趣的事情发生,在此,我将与大家分享我的经历。
第一天,我非常寂寞,因为从28名来自印尼的学生,我只认识一位朋友。我很担心没人与我交谈。从雅加达飞往海南整整花了一天的时间。飞往广州需要6个小时的飞行,之后从广州飞往海南需要1个半小时的飞行。加上办理移民局的手续及其他的杂事,到达那边的时候我已经很疲劳了。幸好,到达海南的时候我们直接地前往酒店休息。隔天上午,我很震惊,原来有其他的团队参加本冬令营,但是不是来自印尼的学生。到了最后,我才发现原来参加本次的冬令营是来自7个不同的国家,包括印尼,马来西亚,文莱达鲁萨兰国,泰国,缅甸,新加波以及澳大利亚。
在那边的时候,我们参观了几个城市。在我们的头6天里,我们留在文昌。这就是我们在那边上学的时刻。在学校,我们使用粘土制作了茶壶, 并写毛笔。在文昌市的最后一晚,每组(使用巴士分组)及每国家必须在晚会演出。我们的组表演了民间舞,并演唱了印尼的民族歌叫“Gemufamire”。在文昌的时候,我们参观了空间博物馆及宋庆龄的故居。度过了这头6天后,我们就去了琼海市。前往琼海市的路上,我们停在红军纪念馆。之后,我们就参观了万宁市,三亚市,以及海口市。在三亚的时候。我们参观了佛寺及三亚南海的观音雕像。此景点非常的大,在那边游览使我们非常地累。但是那边的景色非常的美丽。第一晚到达海口市的时候,我们再次参加晚会。晚会比上次在文昌的晚会更加的大,也预备的非常好。此次,我们代表了印尼歌唱Indonesia Pusaka及Heal the World的歌曲。
在那边的时候,语言成为最大的障碍。在那边的老师和教练没有一个会说英文的。他们只能说中文及海南话。有些导游会说一点点的英语。但是很震惊的,其他国家的队友会讲流利的中文。因此,当老师们要求我们做点事情,来自马来西亚的同学把指示翻译成英文,或马来语。从此刻起,我们更加地与他们接近。
参加了本次的冬令营,使我们的中文水平增强了一些。慢慢地增加中文单词。此外,我们也能了解中国的历史,红军,宇航员等等。我们也与不同国家的同学交朋友。在海口最后一晚,我们更加地亲近来自马来西亚的朋友。我们交换了电话号码。在海口的最后一晚,我们很晚的才睡觉。我们一起出去逛逛,玩卡,及其他有趣的活动。当我们要分离的时候,大都哭了起来。在那么多人的面前哭了,我们也不害羞。
此次的冬令营,对我来说是一个很好的经历,我的朋友也同感。刚开始的时候,我只有一位朋友,但是回家的时候我增加了30位朋友。我们很开心能够参加本次的冬令营。刚开始的时候,我不太想参加,但是回来的时候我一点遗憾也没有。期待着,下次的冬令营。
[:id]
Saya adalah Alexander Giovanni dan saat ini, saya duduk di kelas 10 IPA1. Pada Desember lalu, saya mengikuti “Wintercamp Program” di Hainan, China, yang ditawarkan oleh sekolah. Awalnya, saya enggan untuk ikut karena saya khawatir tidak banyak teman yang mengikuti program tersebut. Setelah mengalami sedikit perdebatan dengan orang tua saya, akhirnya saya pun memutuskan untuk ikut. Ada banyak hal yang saya dan teman-teman lakukan di sana. Berikutnya, saya akan bercerita mengenai pengalaman-pengalaman saya selama mengikuti “Wintercamp Program”.
Pada hari pertama, saya merasa sendirian karena dari 28 peserta yang berasal dari Indonesia, saya hanya mengenal satu orang. Saya sungguh khawatir tidak ada teman untuk berbicara. Perjalanan dari Jakarta ke Hainan benar-benar memakan waktu seharian. Dengan penerbangan 6 jam menuju GuangZhou dan 1.5 jam dari GuangZhou menuju Hainan, ditambah waktu yang dihabiskan di bagian Imigrasi, saya benar-benar merasa lelah. Untungnya, setibanya di Hainan, kami langsung menuju hotel untuk beristirahat.
Selama berada di sana, kami mengunjungi beberapa kota di China. Pada 6 hari pertama, kami tinggal di kota WenChang. Itu adalah saat-saat kami bersekolah. Di sekolah, kami belajar bernyanyi dengan dialek Hainan, menari, bela diri, melukis, membuat kerajinan dari tanah liat, dan menulis kaligrafi. Pada malam terakhir di WenChang, setiap grup (berdasarkan pembagian bis) dan setiap negara harus menyuguhkan pertunjukan pada malam Gala. Grup kami harus menampilkan tarian tradisional dari China, dan dari Indonesia, kami menyuguhkan sebuah tarian dengan lagu “Gemufamire”. Di WenChang, selain bersekolah, kami juga sempat mengunjungi Museum Luar Angkasa dan sebuah rumah bersejarah yang dulunya merupakan Kediaman Song Qing Ling.
6 hari kemudian, kami melanjutkan kunjungan ke QiongHai. Dalam perjalanan ke sana, kami singgah di Museum Pejuang Wanita (“The Red Army Memorial”). Setelah itu, kami berkunjung ke WanNing, Sanya dan kota terakhir, HaiKou. Di SanYa, kami mengunjungi Candi Buddha dan Patung Guan Yin yang terletak di ujung pulau Hainan, yang berbatasan dengan Laut Cina Selatan. Tempat-tempat di kota-kota tersebut sangat besar dan membuat kami kelelahan usai berjalan-jalan. Akan tetapi, kami sangat senang karena tata ruang dan pemandangan tempat-tempat di sana sungguh mengagumkan. Malam pertama kami tiba di Haikou, kami mengadakan Malam Gala lainnya. Malam Gala ini lebih besar dan lebih direncanakan daripada malam gala sebelumnya di WenChang. Kali ini, kami menampilkan Negara Indonesia dengan bernyanyi “Indonesia Pusaka” dan “Heal The World”.
Bahasa adalah masalah utama selama kami berada di China. Tidak ada satu guru maupun pelatih yang dapat berbahasa Inggris. Mereka hanya dapat berbahasa Mandarin dan dialek Hainan. Beberapa pemandu dapat berbahasa Inggris sedikit-sedikit. Yang mengejutkan, semua peserta dari negara-negara lain dapat berbahasa Mandarin dengan fasih. Sehingga, ketika kami diminta melakukan sesuatu oleh para guru, para peserta dari Malaysia akan membantu menerjemahkan intruksi tersebut ke dalam bahasa Inggris atau bahasa Melayu. Hal-hal ini menyebabkan kami lambat laun menjadi dekat dengan teman-teman dari Malaysia tersebut.
Dengan mengunjungi China, kami memperbaiki bahasa Mandarin kami sedikit demi sedikit. Lambat laun, kami menambah kosa kata kami karena kami berbahasa Mandarin secara rutin. Kami juga memperoleh informasi tentang sejarah China, para pejuang wanitanya, astronot-astronotnya, dan banyak lagi lainnya. Selain itu, kami juga berteman dengan berbagai peserta yang berasal dari negara yang berbeda-beda. Saat tibalah malam terakhir berada di Haiko, kami menjadi sangat dekat dengan teman-teman kami, terutama teman-teman yang berasal dari Malaysia. Kami bahkan telah saling bertukar nomor telpon. Saat kebanyakan peserta telah tertidur di malam terakhir itu, kami malah mengobrol, bermain kartu, dan melakukan hal-hal lain bersama. Ketika tiba saatnya berpisah, kebanyakan dari kami menangis. Kami tidak malu untuk menangis meskipun disaksikan oleh orang lain.
“Wintercamp” di Hainan telah menjadi perjalanan yang mengesankan untuk saya, juga bagi teman-teman saya. Saya memulai perjalanan dengan 1 orang teman, kemudian kembali pulang dengan lebih dari 30 orang teman baru. Kami sangat gembira dapat mengikuti program “Wintercamp” ini, terutama saya, yang tadinya enggan pergi, kemudian malah pulang tanpa penyesalan sama sekali. Saya, juga teman-teman yang lain sangat menantikan program-program berikutnya.
[:]
WhatsApp us