[:en]It is traditional among Brits who have already left school to complain that GCSE exams get easier every year. This time they got harder. Sweeping reforms have made the curriculum more demanding, with increased rote learning and fewer opportunities to retake exams. Easy ways for some parents and schools to boost the grades of weaker students, such as coursework, have been cut back. And a more finely calibrated grading system for maths and English – where nine is the highest and one the lowest – will allow universities and employers to make a more nuanced choice between pupils, particularly the ablest.
The reforms are good ones, but the reformers have their priorities wrong. For too long ministers have focused on the country’s highest-achieving pupils. They should now pay attention to everyone else. Only about a third of 18-year-olds go to university; for the rest the road from education to work is uncertain and full of potholes.
There are plenty of places to start. One is changing a policy which dictates those who fail English and maths must resit them until they pass. Dismally low resit pass rates – currently at 23% – suggest room for a rethink. Another is addressing the country’s crumbling further education colleges, which aim to provide technical training for the vocationally minded. These were the only area of education openly targeted for cuts since 2010, and now face another drubbing. A third is the state of apprenticeships, which have been billed as an alternative to A-levels and a solution to Britain’s skills gap. In reality most are poorly paid – some below minimum wage – rated only as equivalent to a GCSE and of uncertain value in the job market.
Employers who offer the coveted level 3 traineeships, equivalent to A-levels, tend to use GCSE performance as a way of selecting candidates, leaving the un-academic out in the cold. And Britain is one of the only countries in the world that have more adults in apprenticeships than younger people (a new levy, encouraging businesses to hire older people, may make matters worse).
There are signs that ministers are thinking along the right tracks: more attention has been paid to apprenticeships in recent years, for example. But what is needed is reforming zeal. Britain is beset with low social mobility and a long tail of underachievement. This will continue until the country finds better options for the young and vocationally minded.
Submitted by: Grace (JC-1)[:zh]自古以来,已经离开学校的英国人一直抱怨有关GCSE的考试每年都会变得更加容易。但是,这次此事变得越来越难了。全面的改革使课程更加严格。目前课程具有更多的死记硬背以及减少了重考的机会。一些家长和学校使用简单的方式, 如:补习的方式来提高学生的成绩,已经没效率了。而且有了更精细的数学和英文分级系统(9分是最高分,1分是最低分),已经让大学和雇主能够在学生之间选出更优秀的候选人。尤其是最聪明的候选人。
改革是好的,但改革者的优先事项是错的。 一直以来部长们专注于该国最高学位的学生。 他们现在应该注意其他领域了。 只有三分之一的18岁的孩子去上大学; 其余的从教育到工作的道路是不确定的,充满了坑洼。
有很多的方式做改革。 第一:改变政策,这些政策决定了那些在英语及数学科目失败的人,必须要坚持直到通过为止。 通常的情况下,通过率低 – 目前为23%,这反映了反思的空间。
第二:防止国家的大学教育继续下降,其目的是为职业技术人员提供技术培训。 这些是2010年以来唯一在教育领域公开执行的工作。现在面临着另一个困扰。
第三:学徒身份,已经被作为A级别的代替,并解决了英国的技能差距。 实际上,大多数报酬不足 -,一些低于最低工资 – 只等于GCSE的价值和不确定的就业市场价值。
提供3级培训的雇主相当于A级,倾向于使用GCSE的方式选择候选人,淘汰那些成绩不好的候选人。 英国是世界上唯一雇佣成年人比青年人多的国家(新征税,鼓励企业雇佣老年人,可能会让事情变得越来越差)。
目前已经有了暗示,部长们正在思考正确的方式:例如,近年来更加重视学徒们。 但是,需要改革的是精神。 英国的社会流动性较低,成长不佳。情况将继续的发生,直到国家找到更好的方式发展年轻人以及发展那些有职业形态的候选人。
Submitted by: Grace (JC-1)[:id]Sudah merupakan hal yang tradisional diantara orang-orang Inggris yang telah meninggalkan sekolah untuk mengeluh mengenai ujian GCSE yang semakin mudah setiap tahunnya. Untuk kali ini ujian semakin sulit. Reformasi yang komprehensif telah menyebabkan kurikulum semakin menuntut, dengan pembelajaran hafalan yang meningkat dan lebih sedikit kesempatan untuk mengikuti ujian ulang. Cara yang sederhana bagi beberapa orang tua dan sekolah untuk meningkatkan nilai akademik siswa yang lemah misalnya dengan memberikan kursus telah dihilangkan. Dan sistem penilaian yang lebih dikalibrasi dengan baik untuk Matematika dan Inggris, dimana nilai 9 adalah yang tertinggi dan nilai 1 untuk yang terendah. Hal ini akan memungkinkan universitas dan pemberi kerja untuk memberikan pilihan yang lebih bernuansa antara siswa, terutama untuk siswa yang pintar.
Reformasi itu bagus, tetap para reformis telah menentukan prioritas yang salah. Untuk sekian lama kementrian telah berfokus pada siswa berprestasi tinggi di negara ini. Sekarang saatnya bagi mereka untuk memberikan perhatian kepada yang lain. Hanya ada sepertiga dari siswa yang berumur 18 tahun yang melanjutkan pendidikan ke Universitas; selebihnya dari pendidikan ke dunia pekerjaan tidaklah pasti dan penuh dengan rintangan.
Ada banyak tempat untuk memulai. Yang pertama adalah dengan merubah kebijakan yang mengharuskan siswa yang gagal di mata pelajaran bahasa Inggris dan Matematika harus tetap menjalaninya sampai mereka lulus. Biasanya persentase kelulusan rendah, saat ini hanya mencapai 23%. Masalah ini memberikan ruang untuk dipikirkan kembali.
Yang kedua adalah mencegah semakin terpuruknya pendidikan di universitas di negara ini, yang bertujuan untuk memberikan pelatihan teknis kepada para tenaga professional dan teknisi. Ini merupakan satu-satunya target di dunia pendidikan yang terbuka untuk dipangkas sejak tahun 2010, dan saat ini sedang mengalami permasalahan yang lain.
Yang ketiga adalah status magang, yang merupakan alternatif dari A level dan solusi bagi kesejangan keterampilan diantara orang-orang Inggris. Pada kenyataanya, banyak yang dibayar secara tidak wajar di bawah upah minimum, hanya diberi nilai setara dengan GCSE dan nilai yang tidak pasti di pasar kerja.
Para pemberi kerja yang menawarkan 3 tingkat pelatihan yang didambakan adalah setara dengan A level, cenderung menggunakan kinerja GCSE dalam memilih kandidatnya, dengan cara mengeliminasi kandidat yang lemah dalam segi akademik. Dan Inggris adalah satu-satunya negara di dunia yang mempunyai lebih banyak orang dewasa di dunia magang dibandingkan dengan anak-anak muda (peraturan perpajakan yang baru mendorong para pengusaha untuk mempekerjakan orang yang tua, kemungkinan akan membuat masalah menjadi lebih parah lagi).
Ada tanda-tanda yang menunjukkan dimana kementrian sedang berpikir di jalur yang benar; sebagai contoh dalam beberapa tahun terakhir ini telah memberikan perhatian lebih kepada para pemagang. Tapi yang sebenarnya
dibutuhkan adalah reformasi semangat. Inggris mempunyai mobilitas sosial yang rendah dan pertumbuhan yang buruk. Hal ini akan terus berlanjut sampai negara menemukan cara yang lebih baik bagi kaum muda dan bagi kaum yang berorientasi kejuruan.
Submitted by: Grace (JC-1)[:]
WhatsApp us