Sekolah kami telah mengadakan pembelajaran daring selama dua tahun. Pada hari Senin, 14 Maret 2022, siswa dari CS4 hingga JC2 akhirnya memiliki kesempatan untuk kembali ke sekolah dan merasakan pembelajaran konvensional secara tatap muka.
Sejak kasus COVID menurun dan tidak kondisi tidak begitu parah lagi, pemerintah telah memutuskan untuk mengizinkan siswa bersekolah dengan sistem PTMT (Pembelajaran Tatap Muka Terbatas). Meskipun pembelajaran di rumah meningkat dari waktu ke waktu, hal itu memang memiliki komplikasi yang tidak ada di kelas yang sebenarnya. Seiring dengan persetujuan orang tua, faktor-faktor ini memberi sekolah sinyal untuk memperkenalkan kembali pembelajaran secara luring.
Hari Jumat yang lalu, Ibu Silvana mengadakan pertemuan dengan ketiga kelas dan wali kelas masing-masing. Jadwal baru diberikan, disertai dengan protokol yang harus dipatuhi saat kembali ke sekolah. Diberitahukan bahwa sekolah akan didesinfeksi sehari sebelumnya dan pembersih tangan akan tersedia di hampir setiap sudut sekolah. Untuk dapat masuk ke dalam lingkungan sekolah, siswa harus mengikuti tes antigen paling lama dua hari sebelum berangkat ke sekolah. Instruksi diberikan dengan jelas, dan kami sepenuhnya siap untuk pergi ke sekolah.
Setelah dua tahun tidak bersekolah, ada perasaan nostalgia yang luar biasa. Semua memori terkuat kembali: aula tempat kami biasa bermain kompetisi antar kelas, loker tempat kami biasa berdiri dan mengobrol, dan pamflet lama proyek kami ditempel di papan buletin; hal-hal kecil yang menambah ingatan saya tentang SMA membuat perasaan saya bercampur aduk ketika bisa kembali ke keadaan seperti sebelumnya.
Bisa melihat teman-teman sekelasku secara langsung sungguh sangat melegakan. Belajar terasa berbeda dengan berada di sekitar mereka – hal ini membuat saya untuk tetap termotivasi. Pembelajaran tatap muka juga membuat pelajaran menjadi lebih menarik. Kelas menjadi lebih interaktif, dan tingkat interaksi juga menjadi lebih intensif. Selain itu, akhirnya saya juga bisa melakukan kegiatgan praktikum di laboratorium dan mengunjungi perpustakaan. Semua ini membuat pembelajaran luring jauh lebih bermanfaat dan menyenangkan daripada pembelajaran daring.
Jika saya harus memilih, saya akan melanjutkan pembelajaran tatap muka ini. Saya percaya kita sebagai siswa akan bisa belajar lebih banyak dalam lingkungan belajar yang mendorong interaksi yang lebih baik antara siswa dan guru.
WhatsApp us