Sudah dua minggu sejak perjalanan kita ke Jogjakarta. Ini sangat menyenangkan bagi sebagian besar orang di Jogjakarta, terutama bagi beberapa kelompok. Bisa dikatakan bahwa sebagian besar orang senang dan hanya beberapa yang merasa kesepian karena perjalanan ini. Saya akan menceritakan perjalanan ini dari sudut pandang saya.
Pada hari pertama perjalanan kita ke Jogjakarta dimulai pada tanggal 24 September. Hari itu adalah hari Minggu, dan semua siswa Cambridge diinstruksikan untuk berkumpul pukul 18.00 dan makan malam di sekolah. Saya tiba di sekolah beberapa menit sebelum pukul 18.00. Sebagian besar orang sudah ada di sana, dan saya melihat beberapa orangtua yang menunggu anak-anak mereka berangkat. Orangtua saya hanya datang untuk mengantarkan saya ketika saya masuk ke sekolah, dan saya melihat bahwa sebagian besar dari mereka sudah siap untuk merekam. Mereka seperti kru film. Saya hanya membawa ponsel dan kamera. Kami makan nasi goreng untuk makan malam; nasi goreng itu tidak terlalu enak karena agak hambar. Setelah saya selesai makan malam, saya mulai memikirkan apa yang akan saya rekam di sekolah sebelum berangkat. Saya pikir itu akan menjadi ide bagus untuk membuat rekaman sinematik. Namun, saat itu jauh dari kata sinematik saat proses pengeditan.
Kemudian, sebelum berangkat, kami diminta untuk mengambil foto pertama dengan spanduk, seperti yang biasa dilakukan oleh setiap sekolah. Kemudian kami membawa barang-barang kami ke bus yang akan mengangkut kami dari sekolah ke Stasiun Gambir di Jakarta. Tidak banyak yang terjadi di dalam bus. Kami hanya berbicara satu sama lain. Ketika kami tiba di Stasiun Gambir, ternyata perjalanan kita dari sekolah ke stasiun lebih cepat dari yang diharapkan. Jadi, kami harus menunggu di stasiun selama satu jam. Begitu kereta tiba, kami segera naik ke kereta. Ketika saya pertama kali masuk ke kereta, ada orang lain di kereta saya yang ingin duduk bersama temannya. Meskipun begitu, sebagai orang baik, saya bilang padanya untuk pindah. Kemudian kami harus duduk selama 6 jam di dalam kereta, tetapi orang-orang tidak tetap di tempat duduk mereka. Karena ada kafetaria di dalam kereta, orang-orang bangkit dan bersantai di kafetaria. Saya bangkit dari tempat duduk saya agak terlambat, jadi saya harus menunggu semua orang kembali sebelum saya bisa pergi ke kafetaria dan mendapatkan tempat duduk. Sementara saya menunggu, ada kursi kosong di sebelah Farren. Jadi, saya meminta Farren untuk duduk di sebelahnya sampai teman duduknya kembali. Setelah teman duduknya kembali, saya bergegas ke kafetaria, mendapatkan tempat duduk, dan duduk sampai kami tiba di Jogja. Karena saya sudah membeli kopi, saya bisa tetap terjaga, dan ada seseorang yang menemani saya selama perjalanan. Kemudian, pada pukul 3 pagi, kami akhirnya tiba di Jogjakarta. Itulah awal perjalanan kami di sana. Kemudian, pemandu wisata yang bertanggung jawab atas tur ini menjemput kami dan membawa kami ke bus kami. Setelah kami naik ke bus, kami diberitahu bahwa destinasi pertama kami adalah sebuah restoran tempat kami bisa mendapatkan sarapan dan mandi yang kami inginkan. Nama restoran itu adalah Ambarketawang. Kami makan di sana dan bersantai sampai waktunya pergi ke destinasi wisata pertama kami. Kami pergi ke sebuah kota bernama Kota Gede, kami pergi ke pemakaman kerajaan di Jogja, dan kami belajar banyak tentang sejarah Jogja. Kemudian kami pergi ke pasar tradisional terdekat, yang juga terkenal karena mengangkat ekonomi Jogja di masa lalu. Setelah itu, kami istirahat sebentar dan mendapatkan minuman dingin. Kemudian kami pergi ke tempat di mana kami bisa membuat Batik dan melakukan kerajinan gerabah. Kami semua membuat vas dan mendekorasi topeng Batik. Seharusnya vas itu sudah dikirim, tetapi saat saya menulis ini, kami masih belum mendapatkan vas kami. Setelah itu, kami makan siang di tempat yang sama. Saya tidak akan berbohong. Ayamnya luar biasa enak.
Kemudian kami semua menuju ke hotel karena kami belum menyimpan barang-barang kami. Kami menginap di Hotel Satoria, dan di hotel itu, beberapa orang pergi ke kolam renang, dan beberapa pergi ke gym, termasuk saya. Kemudian, pukul 5.30 sore, kami diminta untuk berkumpul di lobi untuk menyiapkan makan malam. Kami makan malam di tempat yang saya tidak tahu namanya. Akhirnya, kami kembali ke hotel dan tidur untuk mengakhiri hari kami.
Pada hari kedua, kami diminta untuk pergi ke lobi dan sarapan pukul 6.30 pagi, tetapi saya, yang ceroboh, lupa mengaktifkan alarm. Jadi, saya dan teman sekamar saya, Xue Jiarong, turun ke bawah 15 menit terlambat dari waktu seharusnya, lalu kami menyantao sarapan. Kami pergi ke desa Candirejo, yang berdekatan dengan Candi Borobudur, dan kami melakukan banyak hal di sana. Pertama, kami dibagi menjadi kelompok, yang kemudian melakukan serangkaian aktivitas dengan tertib, dan setiap kelompok bergantian melakukan aktivitas lain yang sudah dilakukan oleh kelompok lain. Kami menanam pohon pepaya, belajar cara menari tarian tradisional, dan bermain alat musik tradisional. Setelah itu, kami makan siang terlebih dahulu dan memiliki waktu untuk istirahat, lalu kami menjelajahi desa yang penuh dengan pekerjaan. Ada orang yang membuat tikar pandan, reneging, dan keripik tempe.
WhatsApp us