Pada 9 Juni 2025 telah dilakukan seminar kesehatan bagi siswa SMP dan SMA Harapan Bangsa Modernhill. Seminar kali ini mengangkat tema “Raising Adolescent Awareness of Reproductive Health: Building a Healthier Future.” Seminar ini dibawakan oleh dr. Hans Christian, SpKJ, seorang psikiater yang dikenal aktif mengedukasi remaja tentang pentingnya kesehatan mental dan reproduksi.
Dalam paparannya, dr. Hans menekankan bahwa kesehatan reproduksi tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik, tetapi juga melibatkan kesejahteraan mental dan sosial.
“Kesehatan reproduksi adalah kondisi sehat secara fisik, mental, dan sosial yang berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi manusia,” jelasnya.
Seminar ini membahas secara mendalam tentang masa pubertas—fase penting dalam kehidupan remaja yang menandai peralihan dari masa anak-anak ke dewasa. Masa ini biasanya dimulai pada usia 8–13 tahun untuk perempuan dan 9–14 tahun untuk laki-laki, dengan berbagai perubahan yang menyertainya, seperti:
* Fisik: Pertumbuhan tinggi badan, munculnya rambut di area tubuh tertentu, menstruasi pada perempuan, dan mimpi basah pada laki-laki.
* Hormon: Peningkatan hormon estrogen (perempuan) dan testosteron (laki-laki).
* Emosi: Perasaan menjadi lebih sensitif, mulai tertarik pada lawan jenis, dan pencarian jati diri.
“Remaja harus memahami bahwa perubahan ini normal dan merupakan bagian alami dari perkembangan diri. Namun, penting juga untuk tidak hanya melihat diri dari kacamata pribadi, tapi juga dari perspektif orang tua, lingkungan, dan nilai-nilai spiritual,” ujar dr. Hans.
Dalam sesi yang interaktif dan terbuka beliau juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap pelecehan seksual. Ia menekankan bahwa pelecehan dapat terjadi dalam berbagai bentuk—verbal, fisik, non-verbal, hingga visual.
“Jika kalian merasa tidak nyaman atau melihat tanda-tanda pelecehan, jangan ragu untuk melapor kepada orang tua atau guru. Kalian punya hak dan perlindungan hukum,” tegasnya.
Topik yang cukup sensitif namun penting ini juga dibahas secara lugas namun bijak. dr. Hans menjelaskan bahwa aktivitas seksual pada dasarnya bertujuan untuk prokreasi, yaitu melahirkan keturunan.
“Seks bukan sekadar tanda cinta, bukan pula demi terlihat keren atau mengikuti tren. Perilaku seksual yang belum pada waktunya bisa membawa risiko besar, seperti kehamilan remaja, penularan penyakit, hingga dampak psikologis,” jelasnya.
Mengakhiri seminar, dr. Hans memberikan pesan mendalam yang disambut dengan tepuk tangan dari para siswa. “Jadilah pribadi yang tidak mudah terprovokasi oleh apapun dan siapapun. Sebab lebih baik tidak mencoba sama sekali, daripada menyesal karena mencoba-coba.”
Untuk itu, di akhir sesi seminar, Mrs. Sisilia Juni Arianti selaku Kepala SMP juga menekankan pentingnya edukasi ini. Apa yang menjadi nasehat orang tua atau para guru tidak boleh dianggap kuno atau ketinggal jaman, tetapi jadikan itu sebagai bentuk pengingat, agar tidak mudah terprovokasi atau jatuh dalam pencobaan.
“Ingatlah bahwa pubertas adalah tahap normal dalam pertumbuhan, dan penting bagi kita untuk menjaga kesehatan fisik dan mental selama masa ini. Jangan ragu untuk bertanya dan mencari dukungan dari orang tua, guru, atau tenaga kesehatan jika ada hal yang membingungkan. Semoga anak-anak semua bisa melewati ini dengan sehat dan penuh semangat.”
Seminar ini tak hanya menjadi ruang edukasi, tetapi juga refleksi bagi para siswa untuk lebih memahami tubuh dan tanggung jawab mereka di usia remaja.
Diharapkan dengan pengetahuan yang tepat, generasi muda mampu membangun masa depan yang lebih sehat, cerdas, dan bijak dalam menghadapi tantangan kehidupan.

WhatsApp us