logo-shb-1 (1)logo-shb-1 (1)logo-shb-1 (1)logo-shb-1 (1)
  • Beranda
  • Tentang Kami
  • Sekolah Kami
    • SHB Modernland
    • SHB Modernhill
  • Admisi
  • Pojok Bahasa
  • Berita
    • SHB Modernland
    • SHB Modernhill
  • Indonesia
✕

A trip worth remembering: East Java

  • Home
  • SHB News
  • News Modernland Cambridge
  • A trip worth remembering: East Java
Home is where the heart is
Januari 18, 2016
生肖信仰—本命年
Januari 25, 2016
Show all

A trip worth remembering: East Java

[:en]A couple of months ago we had a trip to East Java. I'll be honest right off the bat – I didn't expect too much out of East Java. I mean, I try to be optimistic, but the name just screamed hick-town to me. Not the pastoral kind of hick-town with picturesque rolling meadows and bubbling brooks, but the kind of hick-town where people live in bamboo huts under the same roof with hens and cows. To be fair though, it's not like you don't see that in Tangerang, but of course I'm biased, being born and raised in Tangerang.

As it turned out, East Java wasn't that bad. In fact, I'd go as far as to say that some places in East Java outclassed Jakarta. I was pleasantly surprised.

To give you a brief overview of the trip: our trip lasted five days in total. The first day was spent on the train to East Java. The second day we visited a museum. The third day we dabbled in farming at a village. The fourth day we toured Batu, a tourist city in Malang. The fifth day we went sightseeing around Surabaya and then flew back home. We went from place to place by bus arranged my Lotus Travel and Tours.

We set off from Gambir station in the evening, planning to arrive early at Mojokerto the next morning. Now, imagine a group of high schoolers. Put them together in one cramped space for a prolonged period of time, and you've got yourself a recipe for mayhem. Surprisingly, the other passengers didn't seem all too bothered. It was a good thing we weren't rounded up and thrown off the train. After all, good behavior and character of SHB Cambridge students were obviously in their right places that very night.

The first place we visited in Mojokerto was the Majapahit Museum, alongside a gilded Sleeping Buddha statue. As the name suggests, the Majapahit Museum displayed relics related to the Majapahit Kingdom, such as rock statues and pottery. I found the gilded statue too gaudy for my tastes, though.

Next we stayed at a village together with the locals. The village was named Gubugklakah. The houses in the village stood in a row along both sides of the inclining main road to Mt. Bromo. There we had a hands-on farming experience: handling dried cow dung, replanting apple seeds, and harvesting apples. We departed for Batu, Malang afterwards.

Batu was definitely the highlight of the trip. We mainly visited two places: Body Museum and Jatimpark 2. Body Museum was a science museum which demonstrates various bodily functions. The exhibitions did engage my attention, but I would've had enjoyed those more if I were an elementary schooler.

Jatimpark 2 was unique in that it was both a zoo and a theme park at the same time. The animals ranged from fishes to birds, to lizards and insects. The main attraction of the zoo were the “big cats” – lions, tigers, and jaguars. The animals were put in enclosures which emulated their natural habitats, with trees, bushes, and little streams – which I found neat.

The theme park zone had attractions like the roller coaster and the haunted house, among many. I rode an ATV around a dirt track with my lower classmen. The sheer scale and how well the facilities are being taken care of were above most facilities you see here in Indonesia.

On the last day, we looked around a textile factory in Surabaya. The sound of the looms were deafening. After that, we visited the Submarine Monument. It was an actual submarine used during the Indonesian Revolutionary War in the 1940s. Made by Soviets, the submarine was given to Indonesia to help the war effort. The ship was decommissioned after the end hostilities and got turned into a museum ship. We went inside the submarine. It was cool. Then we went to the airport and flew back home.

It was more of a historical trip to look back when 98% of the students in SHB –Cambridge and twelve (12) teacher and adult chaperones including the Cambridge principal Ms. Silvana Hermosa, joined in that October 26-30, 2015 East-Java educational trip.

If you ask me, personally I found the trip a much needed change of pace. Sitting in a classroom all day long can really take its toll.

Thank you to all dear parents in SHB-Cambridge who gave us the chance to experience the trip!

Alvin (JC-2)[:zh]几个月前,我们前往东爪哇。老实说,我对东爪哇没有抱着大的期望。我的意思是说,我尽量保持乐观,但是听到它的名字好像我们要前往一个小镇。不是那种田园乡下如画的小镇景色,但是一种住在竹林小屋下与母鸡和牛住在一起的村民的小镇。说实话,并不像你们在丹格郎所看的一切。对于此事,当然我有偏见,因为我是在丹格郎出生与长大。

但是想不到,原来东爪哇还不错。事实上,在东爪哇的一些地方胜于雅加达。我感到很惊喜。

以下就是我们的行程简要概述:我们的行程中共有5天。第一天的行程就花在前往东爪哇的火车里。第二天我们参观博物馆。第三天我们去了一个村庄的农田。第四天我们去了Batu,是在玛琅城市其中一个的旅游区。第五天我们在泗水观光,然后就返回雅加达。我们的行程是由莲花旅行社安排,乘坐巴士从一个地方到别的地方去。

起程的时候,我们晚上从Gambir火车站出发。打算第二天的早上能到达莫佐克托城市。现在,请想象一下,一群的高中生,在一段时间把他们集中在一个狭小的空间里。果然是一种混沌的配方。出人意料的是,其它的乘客似乎并没有感到困扰。幸好,我们没被围捕及没被从火车揭去。毕竟,民望学校的剑桥生的良好行为和品格在那天晚上显然地看到。

在莫佐克托城市参观的第一个地方是满者伯夷博物馆,在那边可观看睡佛的雕像。正如其名称所暗示的,满者伯夷博物馆显示关于满者伯夷王国的遗迹,如:岩石雕塑和陶器。虽然如此,我个人觉得镀金雕像过于艳俗。

接下来,我们与当地的村民住在一起。该村庄的名称为Gubugklakah. 村里的屋子在前往Bromo山的两边大路站成一排。在那边我们获得在农田的经历,处理干牛粪,种植苹果种子, 收获苹果。之后,我们就前往玛琅城市, 去Batu旅游区。

Batu旅游区是此次的旅程重点。我们参观了两个地方,人体博物馆和东爪哇游乐场2(称为JatimPark2) 。人体博物馆是一家科学性的博物馆,显示了人体内的操作系统。该展示吸引了我的注意力。但是如果我还在小学的话,这种展示可能会更加地吸引我的目光。

东爪哇游乐场2果然独特,因为在里面包括了动物园和游乐园。动物的种类包括了:鱼类,鸟类,蜥蜴和昆虫。动物园的主要动物就是“大猫” 如:狮子,老虎,美洲豹。它们被放入在一种天然人工栖息地的笼里。果然造了非常整齐。

在游乐园里有云霄飞车,鬼屋等等。我与学校的师弟一起骑着全地形車度过一条泥土的路。在这里的规模和设施均高于印尼的其它地方。

最后一天,我们就去了座落在泗水的一家纺织厂。织机的声音果然震耳欲聋。之后,我们参观了潜水艇的纪念碑。这是印尼独立战争期间在20世纪40年代使用的实际潜艇。该潜艇是苏联国造给印尼的潜艇,协助当时印尼的战争年代。战争结束后,该潜艇就被退役,而就成为博物馆的资产。我们进入潜艇内,果然威风。之后我们就前往飞机场返回雅加达。

总结来说这次的旅程非常令人难忘,约98%民望学校的剑桥生与12名的教师和成人伴侣包括剑桥校长Silvana Hermosa女士也一起参与本次举办于2015年10月26日-30日的东爪哇教育之旅。

如果你问我的话,我个人觉该旅程超越习惯。如果一整天坐在课室里,就好像真正受到惩罚。

感谢民望学校的家长们,已经给了我们机会经历到本次的教育之旅!

Alvin(JC2) 笔[:id]Beberapa bulan yang lalu kami mengadakan perjalanan ke Pulau Jawa. Sejujurnya saya tidak berharap terlalu banyak mengenai Jawa timur. Maksud saya ingin mengatakan bahwa saya mencoba untuk optimis, tetapi mendengar kata Jawa Timur saja terkesan sangat udik untuk saya. Bukan suatu kota yang udik  dengan padang hijau terpampang indah seperti dalam lukisan, namun suatu kota dimana orang-orangnya tinggal di bawah pohon bambu bersama dengan ayam dan sapi peliharaan. Dan tentu saja bukan seperti kota yang anda lihat di Tangerang, dan wajar juga jika saya mempunyai prasangka seperti ini, karena saya lahir dan besar di Tangerang.

Ternyata, Jawa Timur tidak seburuk yang saya bayangkan. Dan kenyataannya, bisa dikatakan ada beberapa lokasi di Jawa Timur yang melebihi Jakarta. Sungguh di luar dugaan.

Perjalanan kami kali ini memakan waktu selama 5 hari. Hari ke-1 kami habiskan bersama di kereta api yang menuju Jawa Timur. Hari ke-2 kami mengunjungi Museum. Hari ke-3 kami bermain di sawah di pedesaan. Hari ke-4 kami mengadakan perjalan ke Batu, kota wisata yang ada di Malang. Hari ke-5 kami berjalan berkeliling di kota Surabaya dan kemudian terbang kembali ke Jakarta. Dari satu tempat ke tempat yang lain kami menggunakan Bus yang telah disediakan oleh Biro Perjalanan “ Lotus Travel and Tours”.

Kami berangkat malam hari dari Stasiun Gambir, berharap bisa mencapai kota Mojokerto di hari berikutnya. Coba bayangkan saja, sekumpulan siswa SMA yang berkumpul di satu ruang yang sempit untuk jangka waktu yang cukup panjang. Sungguh suatu resep mujarab dalam meramu suatu kekacauan. Tapi sungguh di luar dugaan, para penumpang yang lain tidak merasa terganggu atas keberadaan kami. Untung saja kami tidak dikepung dan dilempar  keluar dari Kereta api. Secara keseluruhan bisa dikatakan bahwa tingkah laku dan karakter yang baik dari siswa-siswi SHB Cambridge jelas terlihat pada malam itu.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Mojokerto, Museum Majapahit. Disini terdapat patung Buddha Tidur. Kedengaran dari namanya saja kita sudah mengetahui kalau disini akan menunjukkan barang peninggalan dari Kerajaan Majapahit, misalnya: Batu dan keramik pada zaman itu. Namun secara pribadi saya merasa patung yang berlapis emas tersebut terlalu mencolok untuk selera saya.

Berikutnya kami tinggal di pedesaan bersama dengan penduduk lokal. Desa tersebut bernama Gubugklakah. Rumah-rumah di pedesaan tersebut tersusun di sepanjang 2 sisi jalan utama yang menuju Gunung Bromo. Di sana kami mendapatkan pengalaman mengenai pertanian seperti : mengurus kotoran kering dari sapi, menanam kembali biji apel, dan panen apel. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke kota Batu di Malang.

Kota Batu menjadi sorotan untuk perjalanan kali ini. Secara umum kami mengunjungi 2 tempat yaitu: Museum Tubuh dan jatim Park 2. Museum Tubuh merupakan satu museum ilmiah yang menunjukkan berbagai sistem operasi dari tubuh manusia. Pertunjukkan yang ada di dalam musem tersebut menarik perhatian saya. Namun bisa dikatakan jika saya masih berada di tingkat Sekolah Dasar, maka saya akan lebih lagi menikmatinya.

Jatim Park 2 adalah tempat yang unik, karena di dalamnya langsung ada Kebun Binatang dan Taman Hiburan. Binatang yang ada di dalamnya terdapat beragam jenis ikan sampai dengan burung, kadal dan serangga. Atraksi utama dari kebun binatang tersebut adalah para “Keluarga Kucing” yaitu: singa, harimau dan jaguar. Binatang-binatang tersebut ditempatkan di satu lokasi yang sesuai dengan habitat mereka dimana ada pohon-pohonan,  semak belukar dan sungai-sungai kecil di dalamnya. Sungguh tempat yang sangat rapi.

Di dalam taman hiburan terdapat Roller Coaster dan Rumah Hantu, dan lain sebagainya. Saya mengendarai ATV (All Terrain Vehicle) bersama-sama dengan adik kelas saya menelusuri jalanan yang berlumpur. Skala fasilitas yang ada di sini sungguh terjaga dengan baik dan melebihi fasilitas yang terdapat di kota-kota lainnya di Indonesia.

Pada hari terakhir, kami mengunjugi Pabrik tekstil yang berlokasi di Surabaya. Suara dari mesin tenun tersebut sungguh memekakkan telinga. Setelah itu kami mengunjungi Monumen Kapal Selam. Itu adalah Kapal Selam asli yang digunakan Indonesia pada zaman Perang Revolusi pada era tahun 1940-an. Kapal Selam tersebut adalah buatan Uni Soviet dan diberikan kepada Indonesia sebagai bala bantuan untuk  membantu Indonesia menghadapi peperangan. Kapal selam tersebut dinon-aktifkan setelah perang berakhir dan dimasukkan ke Museum Kapal. Kami masuk ke dalam Kapal Selam tersebut, sungguh luar biasa. Kemudian kami menuju Lapangan Terbang untuk kembali ke rumah.

Perjalanan kali ini sungguh merupakan perjalanan yang tidak terlupakan, jika kita melihat 98% dari siswa SHB Cambridge, 12 orang guru serta pedamping dewasa tersebut Kepala Sekolah Cambrige Ibu Silvana Hermosa juga turut dalam perjalanan Edutrip ke Jawa Timur yang berlangsung dari tanggal 26-30 September 2015.

Jika anda bertanya kepada saya, secara pribadi saya merasa perjalanan kali ini sungguh di luar kebiasaan. Jika hanya duduk terus di dalam kelas saja sepanjang hari, sungguh merupakan suatu hukuman untuk saya.

Terima kasih kepada para orang tua SHB-Cambridge yang telah memberikan kesempatan kepada kami semua untuk merasakan pengalaman dari perjalanan ini!

Alvin (JC-2)[:]

Share
SHB Cambridge
SHB Cambridge

Related posts

Januari 15, 2026

Perayaan Natal Junior–Senior High School SHB Modernhill 2025


Read more
logo-shb-1 (1)

EXPLORE
___________________________

Berita
Galeri
Alumni
Karir
Program
Admisi
Kalendar Akademik
Kegiatan

SEKOLAH HARAPAN BANGSA
MODERNLAND
___________________________

Jl. Pulau Putri Raya No.Kav 10, Klp. Indah, Kec. Tangerang, Kota Tangerang, Banten 15117

Telp: (62-21) 5529510/11
Fax: (62-21) 5529512
___________________________
Jl. Hartono Raya ,Modernland – Tangerang 15117

Telp. (62-21) 55780936
Fax (62-21) 55780938

 

SEKOLAH HARAPAN BANGSA
MODERNHILL
___________________________

Jl. Bukit Raya I, Pondok Cabe, Modernhill  – Pamulang 15419

Telp. (62-21) 7403035
Fax (62-21) 740266
___________________________
Jl. Pala Raya, Pondok Cabe, Modernhill – Pamulang 15419

Telp. (62-21) 7495617
Fax (62-21) 7495615

Copyright © 2023 Sekolah Harapan Bangsa

WhatsApp us