[:en]From Wednesday, October 18th 2017, my friends and I had a school trip to Kuningan, Cirebon. Actually, it was not just a trip, but it was a live-in program. We stayed there for 3 days. This year’s theme revolves around community work services. Instead of having a tour of the city, we went to a small village called Cibuntu. Instead of staying in a hotel, we stayed in some of the locals’ houses.
We were welcomed with their traditional drink called Jasreh, which is a mix of ginger and lemongrass. Then, we tried learning a traditional dance called “Tari Tani”, and played gamelan as well.
On the second day, we split up. Some of us went to teach, some went to decorate the school, some worked at the village administration, while the others helped in the tourism section. Then, at noon, we learned how to make Jasreh, while some others went to the paddy ricefield and farm. Afterwards, we had some fun games. Later that night, we had a bonfire activity.
On the last day, we went swimming and hiking. Some of us also participated in a tie dye workshop with local housewives led by our headmaster, Ms Melany. We eventually went home at noon.
Life in Cibuntu is very different from that in the city. Here, the nearest neighbors are roughly 30-minute drive away, and there’s no such thing as cellphone signal. Instead of checking on our social medias and playing games on our phone. Most of the time, we spent our time blending in with the locals, and learning a lot from their culture and their everyday life. We got to experience how it feels like to live in a small, close community, where everybody knows and cares for each other.[:zh]于2017年10月18日(星期三),我与朋友们一起到井里汶,Kuningan旅游。其实,本次的旅游不是一般的旅游,而是具有教育性的家庭寄宿活动。我们在那边连续寄宿了3天。本活动的主题为社区工作服务。而不是参观城市,我们去了一个叫Cibuntu的小村庄。而不是寄宿在酒店,但是寄宿在当地人的房子。
他们热烈欢迎我们,给我们喝Jasreh饮料。本饮料的配料为姜及柠檬草。之后,我们学习Tani传统舞蹈,以及一起尝试甘美蘭的传统乐器。
第二天,我们被分组。有的去教书,有的去布置学校,而有的在村庄成为行政员,也有的协助旅游方面的工作。之后,中午的时候我们一起学习如何制作Jasreh饮料。有些到稻田耕田。重要任务完成之后,我们一起参加有趣味的游戏。晚上的时候一起参加篝火活动。
最后一天,我们一起游泳及远足。但是,有的在村庄里由Melany校长主持一起与家庭主妇参加蜡染班。中午的时候,我们终于回家了。
在Cibuntu村庄的生活与城市的生活有很大的差异。在这里,距离最近的邻居约有30分钟的车程,没有手机信号。我们无法查看我们的社交媒体,或者在我么你的智能手机玩游戏。大多的时间,是与当地人一起互动,了解他们的日常生活及文化习俗。通过此次的活动我们终于经历到在村庄的生活,果然很密切的社区,大家互相认识及关怀。[:id]Pada tanggal 18 hingga 20 Oktober 2017, siswa-siswi SMA Harapan Bangsa Modernhill mengunjungi sebuah desa kecil bernama Desa Cibuntu dalam rangka Live-In dan Social Service. Tidak ada sinyal telepon, selain pada satu tempat di desa tersebut. Pada saat mereka sampai di desa tersebut, mereka disambut dengan meriah oleh penduduk setempat yang berasal dari berbagai profesi. Setelah prosesi penyambutan, para murid pun diajarkan cara bermain angklung. Selain itu, beberapa murid juga belajar sebuah tari tradisional bermana Tari Tani. Tari Tani adalah sebuah tarian tradisional Sunda yang dilakukan secara berpasangan. Tarian ini menceritakan tentang pekerjaan sepasang suami-istri yang berprofesi sebagai petani. Para murid yang menari tampak senang, begitupun yang menonton. Malamnya, mereka berkumpul ke dalam kelompok masing-masing guna menyusun rencana untuk Community Service esok hari. Kebetulan juga malam itu ada tamu lain yang datang, sehingga para penduduk menyelenggarakan serangkaian petunjukkan seni tradisional daerah Sunda. Setelah menyusun rencana, murid-murid pun ikut menonton acara tersebut. Ada pertunjukkan angklung oleh anak-anak setempat yang membawakan lagu “Despacito” oleh Justin Bieber. Selain itu, lima anak membawakan sebuah tarian khas Cibuntu. Tarian tersebut menceritakan tentang kehidupan manusia di jaman purba. Kemudian, murid-murid pergi ke rumah penduduk yang sudah ditentukan dan beristirahat.
Keesokan paginya, mereka pergi ke tempat-tempat Social Service yang mereka tentukan sendiri. Ada yang pergi ke SDN setempat dan balai desa, ada juga yang membantu bagian pariwisata Desa Cibuntu. Di sekolah pun tugas terbagi menjadi empat, yaitu mengajar murid-murid di sana, membuat dekorasi kelas, bekerja di perpustakaan, serta membantu tata usaha. Di balai desa, ada yang membantu bagian RT/RW, kearsipan, anggaran, dan menjadi sekretaris. Setelah Community Service selesai, murid yang berada di balai desa pergi ke SD. Salah satu dari mereka memainkan lagu “Balonku” dengan gitar. Karena tidak hafal nadanya, seseorang yang memang bekerja di sekolah pun bernyanyi untuk membantu temannya memainkan lagu tersebut. Murid-murid SHB Modernhill pun pulang ke rumah masing-masing untuk berganti alas kaki dan celana. Murid-murid pun dipisahkan berdasarkan kelasnya; kelas 10 akan belajar bertani, kelas 11 belajar membuat kompos dari kotoran kambing, dan kelas 12 belajar cara membuat jasreh. Jasreh adalah minuman khas Cibuntu (sesuai tulisan pada kemasan) yang terbuat dari jahe dan sereh. Kedua bahan tersebut kemudian dihaluskan, lalu disaring, dicampur gula, dihaluskan kembali dan diayak. Bubuk yang sudah jadi dapat diseduh dengan air hangat maupun air dingin. Minuman tersebut lumayan efektif menghangatkan tenggorokan. Sorenya, para murid mencoba tiga permainan tradisional yang telah dipersiapkan sedemikian rupa di lapangan sebelah SD setempat. Malamnya, beberapa murid membawakan Tari Tani yang mereka sudah pelajari hari sebelumnya, lalu memainkan lagu “Tanah Airku” versi asli dan koplo dengan angklung. Setelah pertunjukkan tadi, mereka pun mendengarkan dialog kebudayaan oleh kepala desa dan pemimpin divisi pariwisata di Cibuntu. Kemudian, mereka mengadakan pawai obor menuju lapangan. Dengan obor tersebut, mereka menyalakan api unggun. Setelah api unggun dinyalakan, murid-murid melakukan beberapa hal mulai dari mencari sinyal, bernyanyi, sampai sekedar mengapresiasi indahnya kobaran api unggun yang menerangi kegelapan.
Sampailah mereka pada pagi di hari terakhir Live-In ini, di mana mereka berkumpul di Balai Desa untuk melakukan senam ritmik. Senam ini tidak seperti senam SKJ atau senam pramuka yang murid-murid biasa kenal, dikarenakan semua gerakan dalam senam ini dibuat oleh seorang warga di Cibuntu. Setelah itu, para murid kembali dipisah, kali ini berdasarkan jenis kelamin. Murid laki-laki pergi trekking dengan pemberhentian di Air Terjun Curug, sementara yang perempuan berenang di situs kemah setempat. Sejam kemudian, murid laki-laki dan perempuan bertukar kegiatan. Beberapa murid, didampingi oleh Ms. Melany, yang memberikan seminar shibori (seni tie-dye Jepang) kepada ibu-ibu penduduk setempat. Begitu para perempuan selesai trekking, semua murid langsung pergi ke rumah seorang penduduk dan belajar cara membuat surabi. Surabi adalah makanan Sunda yang dapat dimakan sebagai hidangan utama ataupun pencuci mulut. Setelah selesai, murid-murid pun merapihkan barang-barangnya untuk pulang ke Jakarta. Setelah laki-laki Muslim melaksanakan ibadah sholat Jumat, mereka pun melancong ke Batik Trusmi, yaitu sebuah toko batik besar di Kota Cirebon. Murid-murid pun asyik berbelanja dalam waktu satu jam, setelah itu acara pun selesai.[:]
WhatsApp us